KANDUNGAN MINERAL ARBILA (Phaseulus lunatus L.) SEBAGAI PAKAN PADA TANAH VERTISOL DENGAN PENAMBAHAN BOKASHI BERBAHAN Chromolaena odorata DAN FESES SAPI (The Mineral Content of Arbila (Phaseolus lunatus L.) as Feed on The Advertisol Soil with The Addition

Agrifina Risti Tae, Bernadete Barek Konten, Agustinus Semang, Redempta Wea, Abner Tonu Lema

Abstrak

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kandungan mineral hijauan arbila dengan pemberian bokashi berbahan dasar Choromolaena odorata dan feses sapi pada tanah vertisol. Uji coba lapangan dilakukan selama 5 bulan di desa Noelbaki, dan analisis tanaman ini di Laboratorium Kimia Makanan, Universitas Hassanuddin Makassar. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, dan 4 ulangan. Tanaman ditanam di tanah vertisol dalam polybag. Perlakuannya adalah kadar pupuk organik (bokashi) yakni B0=tanpa bokashi, B10=10 ton/Ha, B20=20 ton/Ha, B30=30 ton/Ha, dan B40=40 ton/Ha. Satuan kadar bokashi dikonversikan menjadi satuan dalam polybag sebagai berikut, B0=tanpa perlakuan, B10=75 g/polybag, B20=150 g/polybag, B30=225 g/polybag, B40=300 g/polybag. Variabel yang diamati adalah kandungan mineral kalsium, fosfor dan magnesium pada hijauan arbila. Tingkat bokashi memberikan efek yang sangat signifikan pada kandungan fosfor dan magnesium, tetapi tidak memberikan efek yang signifikan terhadap kandungan kalsium. Persentase kandungan kalsium adalah 0,57% dan rata-rata setiap perlakuan adalah B0=0,56%, B10=0,56%, B20=0,58%, B30=0,61%, dan B40=0,55%. Kandungan fosfor pada masing-masing perlakuan adalah B0=0,15%, B10=0,21%, B20=0,18%, B30=0,16% B40=0,23%. Kandungan magnesium pada masing-masing perlakuan adalah B0=0,15%, B20=0,18%, B30=0,27%, B40=0,37%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian berbagai level bokashi berpengaruh terhadap kandungan fosfor dan magnesium namun tidak berpengaruh terhadap kandungan kalsium hijauan arbila. Level bokashi 40 ton/Ha merupakan level terbaik bagi pembentukan mineral hijauan arbila.

 

Kata Kunci: Tanah Vertisol, Hijauan Arbila, Bokashi, Kalsium, Fosfor, Magnesium

 

 

ABSTRACT

This study aimed to evaluate the mineral content of arbila for the administration of bokashi based on Chromolaena odorata and faeces on the advertisol soil. Field trials had been carried out for 5 months in the villange of Noelbaki, and analysis of this plant in the Food Chemistry Laboratory Hassanuddin University, Makassar. This study was designed based on a complete randomized design (CDR) with 5 treatments, and 4 replications. Plants were planted on the advertiser soil in polybags. The treatments were the level of organic fertilizer (bokashi) i.e. B0=without bokashi B10=10 ton/Ha, B20=20 ton/Ha, B30=30 ton/Ha, B40=40 ton/Ha. Bokashi level was changed to polybag as followed, B0=without treatment, B10=75 g/polybag, B20=150 g/polybag, B30=225 g/polybag, B40=300 g/polybag. The variables observed the mineral content of calcium, phosphorus and magnesium. Bokashi level had a very significant effect on phosphorus and magnesium content, but had not a significant effect on calsium content. The percentage of calsium content was 0.75%, and the average of each treatments were B0 and B10=0.56%, B20=0.58%, B30=0.61%, B40=0.55%. The average of phosphorus content for each treatments were B0=0.15%, B10=0.21%, B20=0.18%, B30=0.16%, and B40=0.23%. The average of magnesium content for each treatments were B0=0.15%, B10=0.18%, B20=0.27%, B30=0.32%, and B40=0.37%. It was concluded that the levels of organic fertilizer (bokashi) had a significant effect on the percentage of phosphorus and magnesium but did not have a significant effect on the calcium content of arbila forage.

 

Keywords: Vertisol Soil, Arbila Forage, Bokashi, Calcium, Phosphorus, Magnesium 

Teks Lengkap:

PDF

Referensi

AOAC. 2005. Official Methods of Analysis of

AOAC International. AOAC International.

Maryland.

BPS NTT (Badan Pusat Statistik Nusa

Tenggara Timur). 2016. Nusa Tenggara

Timur dalam Angka. Badan Pusat

Statistik Nusa Tenggara Timur. Kupang.

Driessen, P.M., and R. Dudal. 1989. Lecture

notes on the geography, formation,

properties, and use of the major soils of

theworld. Agricultural University.

Wageningen.

Gomez, K.A., dan A. A. Gomez. 2010. Statistical

Procedures For Agricultural Research

(Prosedur Statistik Untuk Penelitian

Pertanian. Alih Bahasa Oleh E.

Syamsuddin dan J.S. Baharsyah). Edisi

Kedua. UI Press. Jakarta.

Hardjowigeno, S. 2010. Ilmu Tanah. Akademi

Presindo. Jakarta.

Krismiati S, T. Yuwanta, Zuprizal, dan Supdmo.

The performance laying hens for

different calcium source. Journal of

Indonesian Tropical Animal Agriculture.

(4):263-270.

Koten. B.B., R. Wea, A. Semang. B.Ndoen dan

N.S. Yuliai. 2017. Upaya Peningkatan

Produktivitas Pasture dan Ternak

Melalui Penanganan Spesies Pada

Pasture Alam Tuatuka. Laporan

Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi.

Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

Kupang.

Koten. B. B, R. Wea dan A. Semang. 2016.

Produksi biji arbila (Phaseolus Lunatus

L.) sebagai pakan akibat level inokulum

rizobium yang berbeda. Partner: Buletin

Pertanian Terapan. 21 (2):321-329.

Purbajanti, 2013. Rumput dan Legum Sebagai

Hijauan Makanan Ternak. Graha Ilmu.

Yogyakarta.

Salisbury, F.B. dan C.W. Ross. 1995. Fisiologi

Tumbuhan Jilid 1: Biokimia Tumbuhan.

Penerbit ITB. Bandung.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah.

Jurusan Tanah Fakultas Pertanian

Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Wea, R., B.B. Koten, dan B. Ndoen. 2017.

Pengaruh Jenis Hijauan Non Palatable

Padang Penggembalaan Terhadap

Kandungan N Total dan P2O5 Bokashi.

Prosiding Seminar Nasional Ke-1 Pusat

Penelitian dan Pengabdian Kepada

Masyarakat Politeknik Pertanian Negeri

Kupang. Politeknik Pertanian Negeri

Kupang. Kupang.

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.