PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK KOLANG-KALING MASYARAKAT DESA WONOASRI KAWASAN TAMAN NASIONAL MERUBETIRI

Penulis

  • Agus Santoso
  • Yossi Wibisono
  • R. Abdoel Djamali

Abstrak

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) merupakan salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Jember dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Penduduk desa yang tinggal disekitar dan tinggal di dalam Taman Nasional ini mempunyai aktivitas bertani dan memungut hasil hutan di sekitar atau di dalam Taman Nasional tersebut. Pada saat ini masyarakat memanfaatkan pohon aren dengan mengambil bijinya berupa kolang-kaling dan dijual ke pasar untuk cendol, kolak serta bahan minuman. Penjualan kolang-kaling mentah mempunyai harga yang murah, yaitu sekitar Rp 6000,-/kg hal ini tentu tidak sebanding dengan rumitnya proses memperoleh kolang-kaling dari pemetikan, pengupasan kulit biji sampai dengan menjadi bahan mentah. Untuk itu diperlukan teknologi pengolahan kolang-kaling menjadi minuman yang akan meningkatkan nilai produk kolang-kaling dibandingkan dijual mentah. Anggota tim IbM, pada kegiatan pengabdian ini melakukan introduksi dan diversifikasi produk olahan serta penerapan tata kelola yang menguntungkan dengan mempertimbangkan aspek kesehatan. Upaya ditempuh dalam meningkatkan nilai tambah produk kolang-kaling dengan teknologi pengolahan minuman kolang-kaling, memberikan pelatihan produksi minuman kolang-kaling, memberikan pelatihan penguatan usaha berupa pelatihan desain kemasan, pelatihan cara produksi pangan yang baik dan pelatihan perijinan PIRT. Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan solusi bagi kelompok kerja King Betiri dengan memperbaiki proses produksi berupa aplikasi alat pemecah kolang kaling dan pemecah kulit buah kolang kaling, memberikan pelatihan manajemen usaha kecil. Adapun target kegiatan adalah perbaikan proses produksi melalui perancangan, pabrikasi dan penggunaan alat pemecah dan pemipih kolang kaling serta pelatihan manajemen usaha kecil.Peserta kegiatan  adalah  anggota kelompok King Betiri (9 orang),  usaha rumah tangga kolang kaling (5 orang) serta masyarakat di sekitar lokasi sebanyak 5 orang. Total semua 19 peserta. Seluruh produk yang dihasilkan (tergantung kontinyuitas produksi) dapat ditampung pada ketua kelompok King Betiri dan dilabel khusus untuk dipasarkan ke supermarket sebagai produk olahan kolang kaling yang ASUH (aman, sehat utuh, dan halal)Hasil kegiatan telah mendapatkan perhatian khusus dari peserta mengingat belum ada kegiatan yang sejenis dan terutama terkait isu makanan yang ASUH dan dapat digunakan sebagai salah satu solusi diversifikasi produk olahan kolang kaling. Sustainability kegiatan ini ternyata mampu meningkatkan  pendapatan pesertanya sehingga menarik minat peserta baru  dan pihak dinas terkait karena menyangkut tata kelola kolang kaling segar menjadi produk olahan  kolang kaling cincau dalam kemasan botol plastik yang secara ekonomi lebih menguntungkan. Setiap dua bulan sekali dilakukan pertemuan di kelompok King Betiri yang mengupas permasalahan yang dialami oleh peserta dan ajang sharing pendapat antar anggota terhadap strategi pemasaran.

 

Kata Kunci: Diversifikasi; Minuman Kolang Kaling Cincau; ASUH 

Referensi

Ferita, I., Tawarati., Syarif, Z. 2015. Identifikasi dan Karakterisasi TumbuhanEnau(Arenga pinnata) di Kabupaten Gayo Lues. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia (1) : 31-37

Lempang, M. 2012. Pohon Aren dan Manfaat Produksinya. Info Teknis Eboni (9) : 39-52.

Mariati, R. 2013. Potensi Produksi dan Prospek Pengembangan TumbuhanAren (Arenga pinnata) di Kalimantan Timur. Jurnal Agrifor (12):2-10.

##submission.downloads##

Diterbitkan

11-12-2019