Evaluasi Penerapan SITB pada Klinik Swasta di Kota Denpasar dengan Metode HOT-FIT
DOI:
https://doi.org/10.25047/j-remi.v6i4.4932Kata Kunci:
Tuberkulosis, SITB, HOT-FIT, Pencatatan, PelaporanAbstrak
Angka kejadian Tuberkulosis (TB) di Indonesia menempati urutan kedua tertinggi di dunia, dengan peningkatan temuan kasus yang didukung oleh Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Di Provinsi Bali, sebagian besar kasus TB berasal dari Kota Denpasar. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi penerapan SITB di Klinik Swasta Kota Denpasar. Metode penelitian ini adalah kualitatif menggunakan pendekatan evaluasi Human, Organization, Technology, dan Net Benefit (HOT-FIT). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 6 informan dari klinik swasta yang menerapkan strategi PPM dan dianalisis dengan thematic content analysis. Hasil menunjukkan bahwa faktor Human: SITB mudah digunakan dan tingkat kepuasan pengguna cukup baik, namun komptensi SDM yang belum sesuai; faktor Organization: struktur penugasan SDM belum melibatkan profesi rekam medis dalam pencatatan SITB; faktor Technology: kualitas SITB baik dengan akses mudah berbasis website dan panduan pengguna tersedia; dan faktor Net Benefit: memberikan manfaat positif terutama dalam efisiensi waktu pencatatan dan pelaporan TB, namun manfaat finansial terbatas. Disarankan peningkatan kapasitas SDM bidang manajemen informasi kesehatan, penyederhanaan komponen data SITB untuk klinik swasta, dan penguatan kolaborasi pemerintah-swasta mencapai target eliminasi TB 2030.
Referensi
[1] World Health Organization (WHO), Global Tuberculosis Report 2021. WHO, 2021. [Online]. Available: Geneva
[2] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profil Kesehatan Indonesia 2020. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020.
[3] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Petunjuk Teknis Penggunaan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023.
[4] J. Das et al., “Use of Standardised Patients to Assess Quality of Tuberculosis Care: a Pilot, Cross-Sectional Study,” Lancet Infect. Dis., vol. 15, no. 11, pp. 1305–1313, Nov. 2015, doi: 10.1016/S1473-3099(15)00077-8.
[5] B. Daniels et al., “Use of Standardised Patients to Assess Quality of Healthcare in Nairobi, Kenya: a Pilot, Cross-Sectional Study with International Comparisons,” BMJ Glob. Heal., vol. 2, no. 2, pp. 1–11, Jun. 2017, doi: 10.1136/bmjgh-2017-000333.
[6] A. Kwan et al., “Variations in the Quality of Tuberculosis Care in Urban India: a Cross-Sectional, Standardized Patient Study in Two Cities,” PLOS Med., vol. 15, no. 9, pp. 1–22, Sep. 2018, doi: 10.1371/journal.pmed.1002653.
[7] World Health Organization (WHO), Global Tuberculosis Report 2018. Geneva: World Health Organization (WHO), 2018.
[8] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Surat Edaran Nomor HK.02.01/MENKES/660/2020 tentang Kewajiban Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dalam Melakukan Pencatatan dan Pelaporan Kasus Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020.
[9] R. N. Belrado, H. Harmendo, and S. Wahab, “Analisis Penggunaan Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit,” J. Penelit. Perawat Prof., vol. 6, no. 4, pp. 1779–1798, 2024, doi: https://doi.org/10.37287/jppp.v6i4.3039.
[10] D. Anggrelya, “Analisis Beban Kerja Petugas Pengelolaan Rekam Medis Rawat Inap Berdasarkan Metode ABK-Kes Di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur Tahun 2023,” Politeknik Negeri Jember, 2024.
[11] M. M. Yusof and A. Arifin, “Towards an Evaluation Framework for Laboratory Information Systems,” J. Infect. Public Health, vol. 9, no. 6, pp. 766–773, Nov. 2016, doi: 10.1016/j.jiph.2016.08.014.
[12] N. S. Syam and D. Nurfita, “Evaluasi Penggunaan Sistem Informasi Tuberkulosis dengan HOT-FIT Framework di Puskesmas Mergangsan Yogyakarta,” Ris. Inf. Kesehat., vol. 11, no. 1, pp. 94–102, Jun. 2022, doi: 10.30644/rik.v11i1.603.
[13] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022.
[14] B. S. Nurwito, “Manfaat Dan Efektivitas Penerapan Sistem Informasi Pada Rumah Sakit Swasta Dan Rumah Sakit Pemerintah,” J. Manaj. Inf. Kesehat. Indones., vol. 12, no. 2, pp. 165–170, 2024, doi: https://doi.org/10.33560/jmiki.v12i2.664.
[15] E. W. Faida and A. Ali, “Analisis Kesiapan Implementasi Rekam Medis Elektronik dengan Pendekatan DOQ-IT (Doctor’s Office Quality-Information Technology),” J. Manaj. Inf. Kesehat. Indones., vol. 9, no. 1, pp. 59–67, Mar. 2021, doi: 10.33560/jmiki.v9i1.315.
[16] L. N. Q. Vo et al., “Enhanced Private Sector Engagement for Tuberculosis Diagnosis and Reporting through an Intermediary Agency in Ho Chi Minh City, Viet Nam,” Trop. Med. Infect. Dis., vol. 5, no. 3, pp. 1–13, Sep. 2020, doi: 10.3390/tropicalmed5030143.
[17] A. Kurniawati, “Analisis Peran Pelibatan Praktisi Swasta (Dokter Praktik Mandiri dan Klinik Pratama Swasta) dalam Public Private Mix TB di Kecamatan Umbulharjo Dan Kecamatan Gondokusuman Kota Yogyakarta,” Ber. Kedokt. Masy., vol. 34, no. 5, p. 9, Jul. 2018, doi: 10.22146/bkm.37703.
[18] N. Hasnanisa, S. Prasetyo, and A. Burhanudin, “Evaluasi Sistem Surveilans Tuberkulosis di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas Berdasarkan Pendekatan Sistem,” J. Biostat. Kependudukan, dan Inform. Kesehat., vol. 2, no. 3, pp. 167–184, Jul. 2022, doi: 10.51181/bikfokes.v2i3.5960.
[19] A. D. Permatasari, I. Trihandini, R. J. Bahar, and R. Kurniawan, “Manfaat Penggunaan Mobile Health (m-Health) Dalam Pencatatan dan Pelaporan Kesehatan Ibu,” J. Biostat. Kependudukan, dan Inform. Kesehat., vol. 1, no. 2, pp. 100–112, Mar. 2021, doi: 10.7454/bikfokes.v1i2.1010.
[20] I. A. P. F. Paramita, P. C. S. Putri, G. W. Putra, D. E. Romansyah, L. Y. Adiningsih, and P. E. Pradnyani, “Analisis Keakuratan Kode Diagnosis Pada Kasus Tuberkulosis Berdasarkan ICD 10 di Rumah Sakit Prima Medika,” MAINTEKKES J. Manag. Inf. Heal. Technol., vol. 1, no. 1, pp. 21–28, Jun. 2023, doi: 10.36049/maintekkes.v1i1.123.
[21] A. Heryana, Organisasi dan Teori Organisasi: Sebuah Mini Book. Tangerang: Heryana Institute, 2020.
[22] R. P. Tutiasri, “Komunikasi Dalam Komunikasi Kelompok,” Channel, vol. 4, no. 1, pp. 81–90, 2016.
[23] M. O. Tumbade, “Sistem Informasi dalam Mendukung Kematangan Planning Smart City E-Government untuk Peningkatan Kapabilitas Pelayanan Pemerintah Lombok Timur Terhadap Masyarakat,” JATISI (Jurnal Tek. Inform. dan Sist. Informasi), vol. 9, no. 3, pp. 2137–2152, Sep. 2022, doi: 10.35957/jatisi.v9i3.2225.
[24] S. Wowiling, R. H. Djalil, and F. M. Suranata, “Pengaruh Edukasi Tentang Penyakit Tb Paru Terhadap Sikap Penerimaan Anggota Keluarga yang Menderita TB Paru di Poliklinik TB DOTS (Directly Observed Treatment Short-Course) RSU GMIM Pancaran Kasih Manado,” J. Kesehat. Amanah, vol. 5, no. 1, pp. 78–102, May 2021, doi: 10.57214/jka.v5i1.201.
[25] Z. K. Aizet, A. Pinandito, and W. Purnomo, “Studi Perbandingan Pencatatan Data Transaksi Kasir Klinik Rumah Sayang Bunda terhadap Jumlah Terjadinya Kesalahan Pencatatan menggunakan Sistem Manual dan Sistem Aplikasi AdminRSB,” J. Pengemb. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput., vol. 7, no. 5, pp. 2161–2168, 2023.
[26] A. Rahayuningtyas, “Pengaruh Kualitas Informasi, Kualitas Sistem Informasi, dan Perceived Usefulness terhadap Kepuasan Pengguna Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi Modul Penganggaran pada Satuan-Satuan Kerja Lingkup Pembayaran KPPN Madiun,” J. Manaj. dan Inov., vol. 5, no. 2, pp. 76–91, Jul. 2022, doi: 10.15642/manova.v5i2.863.
[27] F. Meilian and E. Anwari, “Kajian Rujukan Tampilan Antarmuka Aplikasi E-Commerce Untuk Lansia,” Ultim. J. Komun. Vis., vol. 15, no. 1, pp. 65–78, Jun. 2022, doi: 10.31937/ultimart.v15i1.2574.
[28] G. Y. Sanjaya, N. Hanifah, H. K. Prakosa, and L. Lazuardi, “Integrasi Sistem Informasi: Akses Informasi Sumber Daya Fasilitas Kesehatan dalam Pelayanan Rujukan,” Sisfo, vol. 6, no. 1, pp. 51–64, Sep. 2016, doi: 10.24089/j.sisfo.2016.09.004.
[29] N. L. A. Dewi, A. A. I. I. Paramitha, and E. G. A. Dewi, “Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi E-Learning Berbasis Learning Management System (LMS) Moodle Di SMA Negeri 1 Sukawati,” JTKSI (Jurnal Teknol. Komput. dan Sist. Informasi), vol. 5, no. 1, pp. 31–42, 2022, doi: https://doi.org/10.56327/jtksi.v5i1.1123.
[30] G. W. Putra and P. E. Pradnyani, “Determinan Keberhasilan Pengobatan Pasien Tuberkulosis di Kota Denpasar Tahun 2021,” Indones. Heal. Inf. Manag. J., vol. 10, no. 2, pp. 66–72, Dec. 2022, doi: 10.47007/inohim.v10i2.429.
[31] M. Marlinda and V. Y. Permanasari, “Pengeluaran Out of Pocket Rumah Tangga untuk Upaya Pencegahan Kesehatan Anak: Analisis Berbasis Two Part Model dan Tobit,” Ber. Kedokt. Masy., vol. 35, no. 1, pp. 1–9, Jan. 2019, doi: 10.22146/bkm.42519.
[32] N. R. C. Wilis, H. Warsono, and M. S. Adi, “Analysis of Implementation of Tuberculosis Control and Prevention Program in Purwoyoso Primary Healthcare Center, Semarang City,” VISIKES J. Kesehat. Masy., vol. 20, no. 1, pp. 158–172, May 2021, doi: 10.33633/visikes.v20i1.4233
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Gede Wirabuana Putra, Putu Erma Pradnyani

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



