Menentukan Arah Strategis Digitalisasi Rekam Medis Elektronik Melalui Analisis SWOT dan Matriks IFAS-EFAS
DOI:
https://doi.org/10.25047/j-remi.v6i3.5962Kata Kunci:
Rekam Medis Elektronik, Analisis SWOT, EFAS, IFAS, Grand matriks strategyAbstrak
Rumah Sakit Panti Rini telah menerapkan RME sebagai upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan. Pengembangan awal RME rawat jalan dilakukan pada tahun 2014, dan pengembangan lanjutan di unit rawat inap pada tahun 2022. Namun dalam implementasinya masih terdapat hambatan meliputi kurangnya interoperabilitas data antar unit dan kinerja sistem yang belum stabil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal yang berpengaruh dalam pengembangan RME di unit rawat inap menggunakan pendekatan SWOT, IFAS dan EFAS. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan kekuatan internal yang dimiliki di RS Panti Rini meliputi kemudahan akses data, dukungan SDM dan alokasi dana yang memadai, sedangkan kelemahannya yaitu keterbatasan tenaga IT dan penggunaan sistem yang masih hybrid. Dari Faktor eksternal terdapat peluang berupa dukungan kebijakan pemerintah dan Yayasan namun juga terdapat ancaman yaitu kebutuhan integrasi sistem informasi kesehatan nasional dan ketidakstabilan server. Berdasarkan hasil analisis, RS Panti Rini berada pada Kuadran I grand strategy matrix dengan hasil skor IFAS (2,84) dan EFAS (2,55), yang merekomendasikan strategi agresif dalam mengoptimalkan digitalisasi RME untuk meningkatan efisiensi dan efektivitas layanan kesehatan.
Referensi
[1] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2020-2024. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020.
[2] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022.
[3] K. Dwijosusilo and Sarni, “Peranan Rekam Medis Elektronik Terhadap Sistim Informasi Manajemen Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya,” Universitas Dr Soetomo Surabaya, 2018.
[4] M. A. Hapsari and K. Mubarokah, “Analisis Kesiapan Pelaksanaan Rekam Medis Elektronik (RME) Dengan Metode Doctor’s Office Quality-Information Technology (DOQ-IT) di Klinik Pratama Polkesmar,” J-REMI J. Rekam Med. dan Inf. Kesehat., vol. 4, no. 2, pp. 75–82, Mar. 2023, doi: 10.25047/j-remi.v4i2.3826.
[5] M. H. Pratama and S. Darnoto, “Analisis Strategi Pengembangan Rekam Medis Elektronik Di Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Yogyakarta,” J. Manaj. Inf. Kesehat. Indones., vol. 5, no. 1, pp. 34–45, Mar. 2017, doi: 10.33560/.v5i1.146.
[6] B. Nurfitria, F. Rania, and N. W. Rahmadiani, “Literature Review: Implementasi Rekam Medis Elektronik di Institusi Pelayanan Kesehatan di Indonesia,” Universitas Indonesia, 2022.
[7] A. Wahyuni, N. F. Khumaira, and S. Siska, “Hubungan Kelengkapan Rekam Medis Terhadap Akurasi Pengkodean ICD-10 dan ICD-9,” J-REMI J. Rekam Med. dan Inf. Kesehat., vol. 5, no. 3, pp. 243–249, 2024, doi: https://doi.org/10.25047/j-remi.v5i3.4947.
[8] A. Boonstra, A. Versluis, and J. F. J. Vos, “Implementing electronic health records in hospitals: a systematic literature review,” BMC Health Serv. Res., vol. 14, no. 1, pp. 1–24, Dec. 2014, doi: 10.1186/1472-6963-14-370.
[9] A. De Benedictis, E. Lettieri, L. Gastaldi, C. Masella, A. Urgu, and D. Tartaglini, “Electronic Medical Records implementation in hospital: An empirical investigation of individual and organizational determinants,” PLoS One, vol. 15, no. 6, pp. 1–12, Jun. 2020, doi: 10.1371/journal.pone.0234108.
[10] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2019.
[11] A. Utarini, Penelitian Kualitatif Dalam Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2020.
[12] A. Rusdiana, D. Yogaswara, and N. N. Annashr, “Analisis Implementasi Rekam Medis Elektronik Berdasarkan Faktor Human, Organization and Technology-Benefit (Hot-Fit) di Puskesmas Kawalu Kota Tasikmalaya Tahun 2023,” J. Kesehat. komunitas Indones., vol. 20, no. 2, pp. 108–126, 2024, doi: https://doi.org/10.37058/jkki.v20i2.12672.
[13] M. U. Mubarok and Y. Yunengsih, “Strategi Pengembangan Rekam Medis Elektronik di Puskesmas Kebumen III,” J. Med. Rec. Student, vol. 2, no. 1, pp. 42–48, 2024.
[14] P. W. Handayani, D. A. Meigasari, A. A. Pinem, A. N. Hidayanto, and D. Ayuningtyas, “Critical success factors for mobile health implementation in Indonesia,” Heliyon, vol. 4, no. 11, p. e00981, Nov. 2018, doi: 10.1016/j.heliyon.2018.e00981.
[15] K. Terajima, N. Negishi, K. Maruyama, H. Hasegawa, and K. Akazawa, “A Hybrid Electronic Health Record System Integrating Electronic and Paper-based Records,” Eur. J. Biomed. Informatics, vol. 14, no. 1, pp. 58–66, 2018, doi: 10.24105/ejbi.2018.14.1.10.
[16] S. Sofia, E. T. Ardianto, N. Muna, and S. Sabran, “Analisis Aspek Keamanan Informasi Data Pasien Pada Penerapan RME di Fasilitas Kesehatan,” J. Rekam Med. Manaj. Inf. Kesehat., vol. 1, no. 2, pp. 94–103, Oct. 2022, doi: 10.47134/rmik.v1i2.29.
[17] P. Vimalachandran, H. Liu, Y. Lin, K. Ji, H. Wang, and Y. Zhang, “Improving accessibility of the Australian My Health Records while preserving privacy and security of the system,” Heal. Inf. Sci. Syst., vol. 8, no. 1, pp. 1–15, Dec. 2020, doi: 10.1007/s13755-020-00126-4.
[18] R. Wardani et al., “Strategi Pengembangan Rekam Medis Elektronik di Instalasi Rawat Jalan RSUD Gambiran Kota Kediri,” Madaniya, vol. 3, no. 1, pp. 37–46, 2022, doi: https://doi.org/10.53696/27214834.135.
[19] Z. Aini, N. Nurwijayanti, S. Supriyanto, and H. E. Susanto, “Strategi Pengembangan Transformasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM-RS) di RSUD dr. Iskak Tulungagung,” J. Community Engagem. Heal., vol. 5, no. 2, pp. 128–139, Sep. 2022, doi: 10.30994/jceh.v5i22.383.
[20] R. J. I. D. Ayu and L. Lazuardi, “Evaluasi Implementasi Dan Tingkat Digital Maturity Rekam Medis Elektronik Di RSUD Kota Mataram,” J. Manaj. Pelayanan Kesehat., vol. 26, no. 3, pp. 70–81, Nov. 2023, doi: 10.22146/jmpk.v26i3.8710.
[21] K. A. Safitri, “Strategi Keamanan Sistem Informasi untuk Melawan Serangan Ransomware,” Universitas Komputer Indonesia, 2023.
[22] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 92 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Komunikasi Data Dalam Sistem Informasi Kesehatan Terintegrasi. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014.
[23] A. Torab-Miandoab, T. Samad-Soltani, A. Jodati, and P. Rezaei-Hachesu, “Interoperability of heterogeneous health information systems: a systematic literature review,” BMC Med. Inform. Decis. Mak., vol. 23, no. 1, pp. 1–13, Jan. 2023, doi: 10.1186/s12911-023-02115-5.
[24] B. Rahimi, H. Nadri, H. Lotfnezhad Afshar, and T. Timpka, “A Systematic Review of the Technology Acceptance Model in Health Informatics,” Appl. Clin. Inform., vol. 9, no. 3, pp. 604–634, Jul. 2018, doi: 10.1055/s-0038-1668091.
[25] K. Arofah, E. T. Ardianto, and D. S. H. Putra, “Strategi Kebijakan Unit Kerja Rekam Medis Dengan Metode SWOT Di RS PHC Surabaya,” J-REMI J. Rekam Med. dan Inf. Kesehat., vol. 2, no. 2, pp. 203–210, Mar. 2021, doi: 10.25047/j-remi.v2i2.2002.
[26] D. Irawan and E. Gunawan, “Evaluasi Implementasi Rekam Medis Elektronik Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Cililin Tahun 2024,” PREPOTIF J. Kesehat. Masy., vol. 8, no. 2, pp. 3919–3923, Aug. 2024, doi: 10.31004/prepotif.v8i2.32233.
[27] C. S. Kruse, C. Kristof, B. Jones, E. Mitchell, and A. Martinez, “Barriers to Electronic Health Record Adoption: a Systematic Literature Review,” J. Med. Syst., vol. 40, no. 12, pp. 1–7, Dec. 2016, doi: 10.1007/s10916-016-0628-9.
[28] F. D. Drakel, E. D. Dwinta, I. R. R. Putri, A. Puspitasari, and E. Effendi, “Analisis Strategi Peningkatan Mutu Pelayanan Kefarmasian Menggunakan Pendekatan SWOT di Apotek YK Yogyakarta,” INPHARNMED J. (Indonesian Pharm. Nat. Med. Journal), vol. 8, no. 2, pp. 100–111, Feb. 2025, doi: 10.21927/inpharnmed.v8i2.4496.
[29] T. Greenhalgh and C. Papoutsi, “Spreading and scaling up innovation and improvement,” BMJ, vol. 10, no. 3, pp. 69–73, May 2019, doi: 10.1136/bmj.l2068.
[30] C. Popescu, H. EL-Chaarani, Z. EL-Abiad, and I. Gigauri, “Implementation of Health Information Systems to Improve Patient Identification,” Int. J. Environ. Res. Public Health, vol. 19, no. 22, pp. 1–20, Nov. 2022, doi: 10.3390/ijerph192215236.
[31] P. Carayon et al., “Macroergonomics in Health Care Quality and Patient Safety,” Rev. Hum. Factors Ergon., vol. 8, no. 1, pp. 4–54, Oct. 2013, doi: 10.1177/1557234X13492976.
[32] C. L. Goldzweig, Systematic Review: Secure Messaging between Providers and Patients, and Patients’ Access to Their Own Medical Record. Washington DC: Health Services Research & Development Service, 2012.
[33] A. N. R. Hasibuan, J. W. Harahap, D. Agustina, A. Nurmairani, and M. Khairiah, “Analisis Strategi dalam Optimalisasi Pelayanan Kesehatan melalui Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS): Systematic Literature Review,” J. Kolaboratif Sains, vol. 7, no. 5, pp. 1813–1821, 2024, doi: https://doi.org/10.56338/jks.v7i5.5333.
[34] D. F. Sittig and H. Singh, “A new sociotechnical model for studying health information technology in complex adaptive healthcare systems,” Qual. Saf. Heal. Care, vol. 19, no. Suppl 3, pp. 1–14, Oct. 2010, doi: 10.1136/qshc.2010.042085.
[35] H. Alami, M.-P. Gagnon, and J.-P. Fortin, “Digital health and the challenge of health systems transformation,” mHealth, vol. 3, pp. 1–5, Aug. 2017, doi: 10.21037/mhealth.2017.07.02.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Rina Yulida, E. Ria Susi Handayani, Nofitriyani Nofitriyani

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



