Pemanfaatan Limbah Produksi Tempe untuk Perbanyakan Dekomposer Kotoran Sapi di Desa Rambipuji
DOI:
https://doi.org/10.25047/sejagat.v2i3.6783Keywords:
air limbah tempe, dekomposer, kompos, kotoran sapi, integrated farming systemAbstract
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendukung penerapan Integrated Farming System di Desa Rambipuji, Kabupaten Jember, melalui inovasi pemanfaatan limbah cair produksi tempe sebagai media perbanyakan dekomposer. Limbah rendaman kedelai yang dihasilkan oleh industri rumah tangga tempe memiliki kandungan bahan organik tinggi seperti protein, karbohidrat, dan mineral, yang sangat potensial sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme pengurai. Dekomposer hasil perbanyakan kemudian dimanfaatkan dalam proses pengolahan bahan organik dari sektor peternakan, khususnya kotoran sapi, menjadi pupuk kompos. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan, praktik lapang, dan pendampingan teknis kepada kelompok tani setempat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat mampu memperbanyak dekomposer secara mandiri dengan memanfaatkan limbah produksi tempe serta menggunakannya untuk mempercepat proses pengomposan. Penggunaan dekomposer lokal terbukti mempercepat waktu fermentasi dan menghasilkan kompos dengan ciri fisik yang memenuhi kriteria kompos matang. Aplikasi kompos pada lahan pertanian menunjukkan pertumbuhan tanaman padi yang lebih baik dibandingkan tanpa perlakuan kompos. Program ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan masyarakat, pengurangan pencemaran lingkungan, serta peningkatan produktivitas pertanian secara terpadu.
References
[1] E. Sonalitha, B. F. Hidayatulail, N. A. Arianto, N. Nachrowie, R. Rozaq, and S. B. E. Bungalawele, “Pengolahan Limbah Cair Tempe Pada Industri Skala Kecil Di Kepanjen, Kabupaten Malang,” JAPI (Jurnal Akses Pengabdi. Indones., vol. 9, no. 2, pp. 215–222, Aug. 2024, doi: 10.33366/japi.v9i2.6086.
[2] A. T. Perdana and D. Widiawati, “Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengolahan Limbah Cair Produksi Tempe di Kampung Tempe Kota Tangerang,” J. Pemberdaya. Masy. Univ. Al Azhar Indones., vol. 4, no. 1, p. 9, Dec. 2021, doi: 10.36722/jpm.v4i1.935.
[3] Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember, Kabupaten Jember Dalam Angka 2025, vol. 44. Jember (ID): BPS Kabupaten Jember, 2025.
[4] S. Huda and W. Wikanta, “Pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik sebagai upaya mendukung usaha peternakan sapi potong di Kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya Desa Moropelang Kec. Babat Kab. Lamongan,” Aksiologiya J. Pengabdi. Kpd. Masy., vol. 1, no. 1, pp. 26–35, 2017.
[5] C. W. Patty, P. M. Puttileihalat, and P. M. Ririmase, “Karakteristik peternak dan produksi kotoran domba sebagai pupuk organik untuk tanaman pangan di Pulau Kisar,” J. Sos. Teknol., vol. 2, no. 10, pp. 865–871, Oct. 2022, doi: 10.59188/jurnalsostech.v2i10.429.
[6] J. Jasman, E. Indrawan, P. Primawati, B. Rahim, and C. Andriani, “Appropriate technology application of goat manure grinding machine,” CONSEN Indones. J. Community Serv. Engagem., vol. 3, no. 2, pp. 90–100, 2023, doi: 10.57152/consen.v3i2.956.
[7] I. N. T. Ariana, I. G. N. G. Bidura, D. A. Warmadewi, B. R. T. Putri, I. N. S. Miwada, and B. Bulkaini, “Production and safety of closed house waste as a source of protein for non ruminan rations,” J. Biol. Trop., vol. 22, no. 4, pp. 1188–1194, 2022, doi: 10.29303/jbt.v22i4.4344.
[8] D. Risal and N. Mukhlishah, “Efektivitas pupuk organik feses kuda hasil pembakaran terhadap pertumbuhan tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L),” Ecosolum, vol. 2, no. 1, pp. 15–20, 2019.
[9] B. V. Tarigan, R. N. Selan, M. M. Dwinanto, Y. M. Pell, and N. A. Weo, “Pemanfaatan kotoran ternak menjadi biogas sebagai sumber energi alternatif,” SELAPARANG J. Pengabdi. Masy. Berkemajuan, vol. 8, no. 4, pp. 4243–4250, 2024.
[10] R. Marpaung, “Operational strategy in production process of beef cattle manure into compost fertilizer products at organic fertilizer farm in Subulussalam, Pekanbaru,” Int. J. Sci. Technol. Res., vol. 8, no. 10, pp. 483–490, 2019.
[11] P. Priyadi et al., “Enhancing composting efficiency: Impact of microbial consortia on cow manure decomposition,” J. Degrad. Min. Lands Manag., vol. 12, no. 3, pp. 7659–7671, Apr. 2025, doi: 10.15243/jdmlm.2025.123.7659.
[12] Y. A. Kusuma and I. Syahrir, “Pemberdayaan masyarakat melalui gerakan pilah sampah dan pengolahan sampah organik dengan metode takakura,” HUMANISM J. Pengabdi. Masy., vol. 3, no. 2, pp. 113–123, 2022.
[13] M. Slamet, Pemberdayaan Masyarakat dan Pendekatan Partisipatif dalam Pengembangan Pertanian. Bogor [ID]: IPB Press, 2015.
[14] Badan Standardisasi Nasional, SNI 19-7030-2004. Spesifikasi kompos dari sampah organik domestik. 2004, p. 12.
[15] A. Kurniawan, “Produksi mol (mikroorganisme lokal) dengan pemanfaatan bahan-bahan organik yang ada di sekitar,” J. Hexagro, vol. 2, no. 2, pp. 36–44, Aug. 2018, doi: 10.36423/hexagro.v2i2.130.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Edi Siswadi, Fadil Rohman, Gallyndra Fatkhu Dinata, Christa Dyah Utami, Abdurrahman Salim, Muhammad Shodik, Mochammad Syafiq Syauqi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

