Pemetaan Spasial Kasus HIV/AIDS dan Aksesibilitas Pelayanan Kesehatan di Kota Surakarta Berbasis QGIS
DOI:
https://doi.org/10.25047/j-remi.v7i1.6038Kata Kunci:
AIDS, Accessasibility, HIV, QGIS, SpatialAbstrak
Tren penemuan kasus baru HIV/AIDS meningkat setiap tahunnya di Kota Surakarta. Pada tahun 2022 ditemukan sebanyak 425 kasus, tahun 2023 sebanyak 453 kasus dan tahun 2024 sampai dengan bulan Agustus sebanyak 323 kasus. Pemetaan spasial kasus HIV/AIDS bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi berisiko tinggi terjadinya penularan HIV/AIDS, menganalisis pola dan tren penyebaran penyakit serta memvisualisasikan penyebaran kasus HIV/AIDS di Kota Surakarta guna mendukung perencanaan intervensi dan evaluasi program HIV secara lebih efektif. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi ekologi. Penelitian menggunakan data sekunder dari Dinas Kesehatan dan LSM peduli AIDS Kota Surakarta. Metode analisis data menggunakan analisis spasial melalui pendekatan overlay dan buffering dengan QGIS sebagai alat bantu pengolahan data geospasial. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebaran kasus HIV/AIDS berdasarkan kategori wilayah kecamatan dengan warna merah pekat untuk jumlah kasus terbanyak dan warna putih paling sedikit. Sebaran layanan Kesehatan: terdapat 7 rumah sakit dan 17 Puskesmas yang melayani pemeriksaan HIV/AIDS. Sebaran Populasi Kunci (LSL, Waria, WPS dan Penasun): terdapat 107 hotspot area. Jangkauan fasilitas pelayanan kesehatan sudah merata di semua kecamatan. Saran kepada Dinas Kesehatan beserta LSM Peduli AIDS untuk melakukan pemetaan spasial kasus HIV/AIDS agar memudahkan dalam mengidentifikasi lokasi berisiko tinggi terjadinya penularan HIV/AIDS di Kota Surakarta.
Referensi
[1] R. Hendrawan, N. U. Mahmud, and Arman, “Hubungan Perilaku Remaja Terhadap Pencegahan HIV/AIDS SMAN 1 Lasusua Kolaka Utara,” Wind. Public Heal. J., vol. 3, no. 2, pp. 284–292, Apr. 2022, doi: 10.33096/woph.v3i2.374.
[2] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023.
[3] World Health Organization (WHO), “HIV and AIDS.” [Online]. Available: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hiv-aids
[4] Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Profil Kesehatan Jawa Tengah Tahun 2023. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2024.
[5] Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Profil Kesehatan Kota Surakarta 2023. Surakarta: Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2024.
[6] E. R. Tarigan, “Hubungan Sumber Informasi dengan Pengetahuan Remaja tentang Penyakit Menular Seksual di SMA Swasta Masehi GBKP Berastagi,” Indones. Trust Heal. J., vol. 1, no. 2, pp. 107–112, Apr. 2019, doi: 10.37104/ithj.v1i2.20.
[7] J. Wahyudi, “Aplikasi Pemetaan Layanan Kesehatan Bagi Penyandang Disabilitas di Kota Banjarmasin Menggunakan GIS Berbasis Web,” J. Ind. Eng. Oper. Manag., vol. 3, no. 1, pp. 6–14, Jun. 2020, doi: 10.31602/jieom.v3i1.3092.
[8] D. I. Puspitasari, Z. Zaenuddin, and F. Yuridka, “Sistem Informasi Geografi (SIG) Pencarian Lokasi Tambal Ban dengan Pemanfaatan Teknologi GPS,” Elinvo (Electronics, Informatics, Vocat. Educ., vol. 4, no. 1, pp. 30–38, Nov. 2019, doi: 10.21831/elinvo.v4i1.23146.
[9] L. Duarte, A. C. Teodoro, M. Lobo, J. Viana, V. Pinheiro, and A. Freitas, “An Open Source GIS Application for Spatial Assessment of Health Care Quality Indicators,” ISPRS Int. J. Geo-Information, vol. 10, no. 4, pp. 1–16, Apr. 2021, doi: 10.3390/ijgi10040264.
[10] R. Anjani, A. Rosyada, Najmah, and D. A. Putri, “Spatial Distribution of HIV Cases in Female Sex Workers in Palembang City,” J. Ilmu Kesehat. Masy., vol. 13, no. 2, pp. 155–167, Aug. 2022, doi: 10.26553/jikm.2022.13.2.155-167.
[11] WHO, Consolidated Guidelines on HIV Prevention, Testing, Treatment, Service Delivery and Monitoring : Recommendations for a Public Health Approach. Geneva: WHO, 2021.
[12] R. T. Gandhi et al., “Antiretroviral Drugs for Treatment and Prevention of HIV in Adults: 2024 Recommendations of the International Antiviral Society–USA Panel,” JAMA, vol. 333, no. 7, pp. 1–20, Feb. 2025, doi: 10.1001/jama.2024.24543.
[13] A. M. Secor et al., “Does HIV Index Testing Bring Patients into Treatment at Earlier Stages of HIV Disease? Results From a Retrospective Study in Ukraine,” BMC Infect. Dis., vol. 24, no. 1, pp. 1–9, Mar. 2024, doi: 10.1186/s12879-024-09190-7.
[14] A. K. Groves et al., “A Systematic Review and Meta-analysis of the Evidence for Community-based HIV Testing on Men’s Engagement in the HIV Care Cascade,” Int. J. STD AIDS, vol. 33, no. 13, pp. 1090–1105, Nov. 2022, doi: 10.1177/09564624221111277.
[15] M. S. Jamil et al., “Examining the Effects of HIV Self-Testing Compared to Standard HIV Testing Services in The General Population: A Systematic Review and Meta-Analysis,” eClinicalMedicine, vol. 38, pp. 1–11, Aug. 2021, doi: 10.1016/j.eclinm.2021.100991.
[16] PKBI Daerah Istimewa Yogyakarta, “Voluntary Counseling And Testing (VCT).” [Online]. Available: https://pkbi-diy.info/voluntary-counseling-and-testing-vct/
[17] J. Martin, Roxanne Brizan-St.Paul, “Evaluating the Performance Of GIS Methodologies for Quantifying Spatial Accessibility to Healthcare in Multi-Island Micro States (MIMS),” Health Policy Plan., vol. 37, no. 6, pp. 690–705, Jun. 2022, doi: 10.1093/heapol/czac001.
[18] L. Chen et al., “Spatial Accessibility Evaluation and Location Optimization of Primary Healthcare in China: A Case Study of Shenzhen,” GeoHealth, vol. 7, no. 5, pp. 1–14, May 2023, doi: 10.1029/2022GH000753.
[19] Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Laporan Pemetaan Populasi Kunci HIV/AIDS Kota Surakarta Tahun 2022. Surakarta: Dinas Kesehatan Kota Surakarta, 2023.
[20] S. Prabhu et al., “Role of Geospatial Mapping in the Planning of HIV Programs,” Medicine (Baltimore)., vol. 100, no. 34, pp. 1–5, Aug. 2021, doi: 10.1097/MD.0000000000027092.
[21] L. Gounder et al., “Geospatial and Temporal Mapping of Detectable HIV-1 Viral Loads Amid Dolutegravir Rollout in KwaZulu-Natal, South Africa,” PLOS Glob. Public Heal., vol. 4, no. 5, pp. 1–19, May 2024, doi: 10.1371/journal.pgph.0003224.
[22] D. F. Cuadros et al., “Moving Beyond Hotspots of HIV Prevalence to Geospatial Hotspots of UNAIDS 95-95-95 targets in sub-Saharan Africa,” Lancet HIV, vol. 11, no. 7, pp. e479–e488, Jul. 2024, doi: 10.1016/S2352-3018(24)00102-4.
[23] K. Pariaribo, S. Hadisaputro, B. Widjanarko, and M. A. U. Sofro, “Faktor Risiko yang Mempengaruhi Kepatuhaan Terapi Antiretroviral (ARV) pada Pasien HIV/AIDS di RSUD Abepura Jayapura,” J. Epidemiol. Kesehat. Komunitas, vol. 2, no. 1, pp. 7–16, Feb. 2017, doi: 10.14710/jekk.v2i1.3966.
[24] S. R. Hidayat and L. D. N. Fitri, “Hubungan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan dengan Kepatuhan Minum Obat pada Odha di Puskesmas Temindung Samarinda,” BSR Borneo Student Res., vol. 2, no. 1, pp. 215–220, 2020.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Ovita Mayasari, Chairullah Naury, Cheelsy Arsa Fiesta

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



