Analisis Tarif INA-CBGS Kasus Persalinan dengan Penyulit Disertai Prosedur Sectio caesarea
DOI:
https://doi.org/10.25047/j-remi.v7i1.5998Kata Kunci:
Sectio Caesarea, Tarif INA-CBGS, BPJS KesehatanAbstrak
Pembiayaan prosedur Sectio caesarea (SC) dalam INA-CBGs dilakukan atas dasar indikasi medis tertentu. Ketika terdapat selisih tarif INA CBGs dengan tarif rumah sakit, rumah sakit mengalami kerugian. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tarif INA-CBGs pada berbagai tingkat keparahan dengan mempertimbangkan karakteristik dan keadaan klinis ibu bersalin. Jenis penelitian adalah deskriptif kuantitatif. Peneliti mengobservasi 142 data klaim persalinan dengan penyulit disertai prosedur SC. Analisa data secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berumur 26-30 tahun (34,51%), indikasi medis riwayat SC (27,46%), dan kelas perawatan di kelas 3 (54,93%), lama perawatan 4 hari (66,90%), diagnosis utama O34.2 (31,69%), dan tingkat keparahan I (76,06%). Diagnosis sekunder komplikasi paling banyak terjadi adalah riwayat SC (12,37%) dan anemia (12,37%). Tarif rumah sakit cenderung beragam dan terdapat selisih kekurangan tarif berkisar 40 juta rupiah. Rumah sakit perlu melakukan validasi internal klaim secara ketat, memastikan kelengkapan dokumen, meningkatkan koordinasi antar unit serta melakukan pelatihan rutin bagi staf terkait aturan klaim terbaru.
Referensi
[1] D. Todman, “A history of caesarean section: From ancient world to the modern era,” Aust. New Zeal. J. Obstet. Gynaecol., vol. 47, no. 5, pp. 357–361, Oct. 2007, doi: 10.1111/j.1479-828X.2007.00757.x.
[2] L. Gibbons, J. M. Belizán, J. A. Lauer, A. P. Betrán, and M. M. and F. Althabe, “The Global Numbers and Costs of Additionally Needed and Unnecessary Caesarean Sections Performed per Year: Overuse as a Barrier to Universal Coverage HEALTH SYSTEMS FINANCING,” Geneva, 2010.
[3] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Survei Kesehatan Indonesia 2023,” Jakarta, 2023.
[4] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019.
[5] T. S. Purnaningrum, C. Suryawati, and S. Suhartono, “Analisis Activity Based Costing pada Sectio Caesar Tanpa Penyulit Metode ERACS di RS XY Pati,” J. Kesehat. Vokasional, vol. 9, no. 2, pp. 88–98, May 2024, doi: 10.22146/jkesvo.94879.
[6] F. N. Nurhayati, B. Prasetyo, and M. Miftahussurur, “Analysis of Caesarean Section Rates and Source of Payment Using the Robson Classification System,” J. Matern. Child Heal., vol. 8, no. 1, pp. 1–11, 2023, doi: 10.26911/thejmch.2023.08.01.01.
[7] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan No 26 Tahun 2021 Tentang Pedoman Indonesian Case Base Groups (INA-CBG) Dalam Pelaksanaan Jaminan Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2021.
[8] A. A. Islamiyah, “Analisa Perbandingan Biaya Riil dan Tarif INA-CBGs Pasien Rawat Inap Operasi Pembedahan Caesar di RSUD Kota Mataram Tahun 2021,” Universitas Muhammadiyah Mataram, 2022.
[9] V. Regina, “Rekonstruksi Tarif Pelayanan Sectio Caesarea Pada Pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di RSIA Permata Bunda Solok,” Universitas Andalas, 2023.
[10] BPJS Kesehatan, Berita Acara Kesepakatan Bersama Panduan Penatalaksanaan Solusi Permasalahan Klaim INA-CBG Tahun 2019. Jakarta: BPJS Kesehatan, 2019.
[11] A. R. Prihartini and R. Iryadi, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan dengan Tindakan Sectio Caesaria (SC) pada Ibu Bersalin,” J. Kesehat. Pertiwi, vol. 1, no. 1, pp. 13–20, 2019.
[12] D. C. Siregar, M. Kurniati, and N. Sari, “Faktor yang Mempengaruhi Persalinan Sectio Caesarea (SC) di Rumah Sakit Swasta (Analisis Data SKI 2017),” J. Ilmu Kedokt. dan Kesehat., vol. 10, no. 5, pp. 1919–1927, Jun. 2023, doi: 10.33024/jikk.v10i5.9470.
[13] O. T. Monica, M. T. Khamisya, R. Hariyanti, and S. Mariana, “Hubungan Usia, Partus Lama Dan Gawat Janin Pada Ibu Hamil Dengan Sectio Caesarea Di RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi,” J. Bahana Kesehat. Masy., vol. 7, no. 1, pp. 30–34, 2023.
[14] M. Safitri, “Indikasi Persalinan Sectio Caesarea dan Komplikasi Pasca Persalinan Sectio Caesarea: Narrative Review,” Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta, 2020.
[15] I. B. G. S. Putra, I. M. Wandia, and S. Harkitasari, “Indikasi Tindakan Sectio Caesarea di RSUD Sanjiwani Gianyar Tahun 2017-2019,” Aesculapius Med. J., vol. 1, no. 1, pp. 63–69, 2021.
[16] E. D. Pamilangan, J. J. E. Wantani, and A. M. Lumentut, “Indikasi Seksio Sesarea di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Tahun 2017 dan 2018,” e-CliniC, vol. 8, no. 1, pp. 137–145, Dec. 2019, doi: 10.35790/ecl.v8i1.27358.
[17] A. Daniyati and S. Mawaddah, “Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Persalinan Dengan Tindakan Sectio Caesarea di Ruang Bersalin Rumah Sakit Tingkat IV Wira Bhakti Mataram,” J. Ilmu Kesehat. dan Farm., vol. 9, no. 2, pp. 14–18, Sep. 2021, doi: 10.51673/jikf.v9i2.872.
[18] A. Permatasari, S. Yunola, R. Amalia, and P. D. Lestari, “Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Sectio Caesarea,” J. Kebidanan J. Ilmu Kesehat. Budi Mulia, vol. 12, no. 2, pp. 132–141, Dec. 2022, doi: 10.35325/kebidanan.v12i2.318.
[19] S. Mariyam, “Sistem Jaminan Sosial Nasional Melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan (Perspektif Hukum Asuransi),” Serat Acitya – J. Ilm. UNTAG Semarang, vol. 7, no. 2, pp. 36–42, 2018.
[20] A. Vianti and Pujiyanto, “Gambaran Biaya Sectio Caesarean dengan Clinical Pathway pada Pasien JKN RS Hermina Jatinegara Tahun 2021,” Syntax Lit. J. Ilm. Indones., vol. 7, no. 9, pp. 14616–14625, 2022, doi: https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v7i9.9197.
[21] S. L. Pereira et al., “Factors associated with the length of hospital stay of women undergoing cesarean section,” Rev. Saude Publica, vol. 53, pp. 1–8, Feb. 2019, doi: 10.11606/s1518-8787.2019053001113.
[22] R. A. Rusadi, Musdalifah, and Y. Iskandar, “Lama Waktu Rawat Inap Pasien Operasi Bedah Caesar,” J. Bidan Umbara, vol. 1, no. 1, pp. 24–28, 2023.
[23] World Health Organization (WHO), International Statistical Classification of Disease and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10, Volume 1,3). Geneva: World Health Organization (WHO), 2016.
[24] R. S. Dewi, F. Apriyanti, and E. Harmia, “Hubungan Paritas dan Anemia dengan Kejadian Ketuban Pecah Dini di RSUD Bangkinang Tahun 2018,” J. Kesehat. Tambusai, vol. 1, no. 2, pp. 76–84, 2020, doi: https://doi.org/10.31004/jkt.v1i2.1108.
[25] D. C. A. Koen, S. Pratamamningtyas, D. E. Rahayu, and K. Hardjito, “Hubungan Kadar Hemoglobin Terhadap Proses Penyembuhan Luka Post Sectio Caesarea di Rumah Sakit Aura Syifa Kabupaten Kediri,” J. Ilmu Kesehat., vol. 16, no. 1, pp. 12–18, 2025, doi: https://doi.org/10.35966/ilkes.v16i1.390.
[26] S. Rijal et al., “Gambaran Preeklamsia dan Eklamsia Ditinjau dari Faktor Risiko di RSUD Ciawi,” J. Muara Med. dan Psikol. Klin., vol. 2, no. 1, pp. 50–61, May 2022, doi: 10.24912/jmmpk.v2i1.20112.
[27] M. P. Aryanti and K. K. Saptorini, “Analisis Tarif INA CBGs Pasien Sectio Caesarean Tahun 2017 di RSUD Bendan Pekalongan,” in Prosiding Seminar and Workshop Public Health Action Fakultas Kesehatan UDINUS (ISWOPHA 2018), Universitas Dian Nuswantoro Semarang, 2018, pp. 141–151.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Cut Adiba Azizzulida, Kriswiharsi Kun Saptorini

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.



